Pasar Halal

Yuswohady (Paling Kanan)
RT.03 BANYUROJO - Dalam buku Marketing to the Middle Class Muslim, Yuswohady menyebut label halal dari MUI sebagai hot label. Kenapa? Karena kini label halal mulai digandrungi oleh konsumen kelas menengah muslim di Indonesia. Saya surprise luar biasa, karena survei yang saya lakukan di lima kota besar Indonesia menunjukkan 94% wanita kelas menengah muslim mengecek label halal sebelum mereka membeli kosmetik.

Pasar halal mencakup kategori industri yang cukup luas. Di samping kosmetik, kategori yang lain adalah makanan dan minuman kemasan, makanan yang disajikan di hotel dan restoran, obat-obatan (halal medicine), jamu, hingga pertanian (halal farming) . Dengan cakupan yang luas, potensi pasar halal demikian menjanjikan. Pasar makanan halal dunia sangat besar dan tumbuh amat cepat. Menurut Thompson Reuter potensi pasar makanan halal tahun ini mencapai USD 1 triliun dan di tahun 2030 dipredisikan membengkak menjadi USD 10 triliun.

Di Indonesia, menurut World Halal Forum, potensi pasar makanan halal mencapai USD 78,5 miliar (2010), merupakan pasar yang terbesar di dunia. Pasar makanan halal di Indonesia menjadi kian mencorong ketika kita menyaksikan kecenderungan konsumen muslim Indonesia yang semakin religius dan peduli untuk mengonsumsi makanan-makanan yang halal.

Peduli Halal

Konsumen muslim kini tidak hanya mencari kemanfaatan fungsional dan emosional dari produk makanan, tetapi juga manfaat spiritual, yaitu seberapa jauh produk tersebut mengikuti nilai-nilai yang sudah digariskan oleh Islam. Hal ini disebabkan konsumsi makanan dan minuman halal merupakan bentuk kepatuhan kelas menengah muslim pada nilai-nilai Islam yang juga merupakan investasi untuk kehidupan akhirat.

Dengan semakin teredukasi dan open minded-nya konsumen muslim, saya memprediksi bahwa pemahaman terhadap prinsip halal nantinya akan semakin substantif. Mereka memahaminya tak hanya melulu normatif, yaitu sebatas menjalankan perintah agama, tapi lebih jauh lagi dalam rangka betul-betul mencari kemanfaatan yang bersifat universal. Dengan pemahaman yang lebih universal maka label halal nantinya akan memiliki citra yang positif dan bergengsi sebagai simbol dari makanan/minuman berkualitas (symbol of quality food).

Informasi Halal

Perkembangan informasi yang kian cepat dan melimpah turut meningkatkan pemahaman kelas menengah muslim akan makanan dan minuman halal. Kini misalnya, mulai banyak program televisi atau radio yang secara khusus menyampaikan informasi mengenai produk dan makanan halal. Program ini biasanya dilatarbelakangi oleh banyaknya pertanyaan pemirsa yang mampir di meja redaksi seputar makanan halal.

Selain televisi dan radio, media sosial juga menjadi information channel yang kian mendongkrak kesadaran halal konsumen muslim. Media sosial telah menjadi medium terbuka untuk bertanya, memberi informasi, dan mendiskusikan berbagai topik mengenai makanan dan minuman halal. Harus diingat bahwa kelas menengah muslim itu sudah modern dan techy, sehingga kehadiran teknologi digital akan dimanfaatkan untuk berbagi dan berkomunikasi mengenai kehalalan suatu produk. Mereka membangun kesadaran halal melalui medium komunitas.

Kepo Halal

Fenomena lain yang menarik adalah makin kritisnya konsumen muslim terhadap kehalalan suatu produk. Berbagai upaya dilakukan untuk mengetahui status halal suatu makanan atau minuman. Contohnya adalah mengecek label halal LPPOM MUI ketika akan memilih dan membeli suatu produk. Bila belum menemukan logo halal, yang berikutnya dilakukan yaitu mencari informasi di internet. Mereka dapat bertanya dan mencari tahu status halal makanan atau minuman melalui komunitas-komunitas peduli halal yang menjamur di media sosial.

Tidak hanya label halal saja yang ingin diketahui oleh konsumen muslim, tapi juga bagaimana proses produksi dan pengolahan makanan, serta jenis bahan-bahan yang digunakan. Yuswohady lebih senang menyebut fenomena ini dengan kepo halal (kepo adalah bahasa gaul singkatan dari: knowing every particular object). Tak mengherankan jika kini produsen makanan dan minuman di berbagai kategori berlomba-lomba mendaftarkan produknya untuk mendapatkan label halal.

Komunitas Halal

Di samping identik dengan knowledgeable, kelas menengah juga identik dengan koneksi sosial (social connection) yang tinggi. Dalam konteks makanan halal, hal ini berimpak pada lahirnya komunitas-komunitas yang berpusat pada isu-isu kehalalan. Semangatnya sama, yakni berbagi informasi sekaligus melakukan edukasi pada masyarakat mengenai konsep halal. Edukasi halal antar sesama muslim (peer-to-peer education) melalui medium komunitas inilah yang memungkinkan kesadaran halal menyebar demikian cepat layaknya virus ebola nan ganas. Selain aktif di media sosial, komunitas-komunitas ini juga getol melakukan kopi darat alias bertemu tatap muka.

Karena kekuatan online dan offline-nya, komunitas kemudian menjadi medium yang sangat ampuh untuk mengedukasi dan mengampanyekan makanan halal. Adanya perasaan bersaudara di kalangan umat Islam menjadikan mereka berkewajiban untuk saling mengedukasi, mengingatkan dan melindungi, termasuk dalam hal mengonsumsi makanan halalan thayyiban (yang halal dan yang baik). Fokus komunitas-komunitas halal ini untuk mengejar manfaat-manfaat spiritual, yakni menebar kebaikan dan mencari pahala melalui distribusi informasi terkait halal.

Menelusuri tren-tren halal di atas, pastilah Anda setuju dengan saya, bahwa pasar halal bakal boom dalam beberapa tahun ke depan. Ini adalah peluang luar biasa. Kalau sudah tahu begitu, pekerjaan mendesak Anda sebagai marketer hanya satu: Action!!! Now!!! [Yuswohady]